PADANG – Suasana berbeda terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kota Padang, Sumatera Barat, pada Kamis malam. Ratusan warga binaan tampak khusyuk menunaikan sholat tarawih meski harus menjalani ibadah Ramadan di balik jeruji besi.
Keterbatasan ruang dan kondisi tidak menyurutkan semangat para warga binaan yang beragama Islam untuk tetap menjalankan ibadah malam di bulan suci. Sebagian melaksanakan salat tarawih berjamaah di masjid dalam lingkungan lapas, sementara lainnya beribadah di kamar hunian masing-masing.
Pelaksanaan ibadah di masjid lapas dilakukan secara bergiliran. Setiap harinya, sekitar tujuh kamar atau kurang lebih 300 warga binaan mendapat kesempatan mengikuti salat lima waktu dan tarawih secara berjamaah di masjid.
Sementara itu, warga binaan lainnya tetap menjalankan ibadah dari dalam kamar. Salat berjamaah di kamar dipimpin oleh imam yang juga berasal dari kalangan warga binaan yang telah mendapatkan pembinaan dan pelatihan keagamaan.
Kebijakan tersebut diterapkan mengingat keterbatasan kapasitas masjid dan jumlah petugas pengamanan.
Selain sholat wajib dan tarawih, berbagai kegiatan keagamaan turut digelar selama Ramadan. Warga binaan mengikuti tadarus Al-Qur’an, mendengarkan ceramah agama, hingga berbuka puasa bersama.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga mempererat silaturahmi antarwarga binaan di dalam lapas.
Kepala Lapas Kelas II A Padang, Junaidi, berharap aktivitas keagamaan yang rutin dilaksanakan, terutama di bulan Ramadan, mampu memberikan dampak positif terhadap perubahan sikap dan karakter para warga binaan.
Menurutnya, pembinaan rohani menjadi salah satu aspek penting dalam proses pemasyarakatan, agar para warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik.
Ramadan di balik tembok tinggi Lapas Padang pun menjadi bukti bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka, bahkan di tempat yang penuh keterbatasan sekalipun. (*)












