Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Mahligai Minang Tanpa Kubah yang Mendunia

Kamis, 26 Februari 2026 - 05:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Berdiri Megah Di jantung Kota Padang, tepat di perempatan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH.Ahmad Dahlan.

Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Berdiri Megah Di jantung Kota Padang, tepat di perempatan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan KH.Ahmad Dahlan.

PADANG – Di jantung Kota Padang, tepat di perempatan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Ahmad Dahlan, berdiri megah sebuah bangunan yang langsung mencuri perhatian siapa pun yang melintas. Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi tampil berbeda dari kebanyakan masjid di Indonesia. Ia tidak memiliki kubah, namun justru di situlah letak daya tariknya.

Masyarakat mengenalnya sebagai “Mahligai Minang”—ikon religi sekaligus destinasi wisata halal kebanggaan Sumatera Barat.

Lahir dari Gagasan Besar

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memulai pembangunan masjid ini pada 2007 setelah arsitek Ridwan Kamil merancang desainnya. Pembangunan berlangsung bertahap karena penganggaran dilakukan secara multiyears selama tujuh tahun. Pemerintah merampungkan proyek ini pada 2014 dengan total anggaran sekitar Rp330 miliar dan meresmikannya pada masa kepemimpinan Gubernur Irwan Prayitno.

Masjid berdiri di atas lahan hampir satu hektare dan langsung menjelma menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus landmark baru Kota Padang.

Filosofi Atap Tanpa Kubah

Alih-alih kubah, masjid ini menghadirkan atap bergelombang dengan empat sudut lancip yang menyerupai kain besar yang terbentang. Banyak orang mengira bentuknya terinspirasi dari gonjong rumah gadang. Namun, desain tersebut justru melambangkan empat sudut kain putih yang digunakan empat khalifah saat memindahkan Hajar Aswad di Mekkah.

Makna simbolik itu memperkuat pesan persatuan dan kebijaksanaan dalam sejarah Islam.

Interior Megah Tanpa Tiang

Keunikan lain terlihat pada ruang utama yang luas tanpa tiang penyangga di bagian tengah. Desain ini memberi kesan lapang sekaligus monumental. Dinding dan ornamen interior dihiasi ukiran khas Minangkabau, sementara mihrab dirancang menyerupai bentuk Hajar Aswad dan diperkaya kaligrafi Asmaul Husna.

Masjid tiga lantai ini mampu menampung sekitar 6.000 jemaah. Area parkir luas, tempat wudu bersih, serta taman bermain anak membuat kawasan masjid selalu ramai, terutama saat akhir pekan dan hari libur.

Pusat Ibadah dan Aktivitas Sosial

Tak hanya menghadirkan arsitektur ikonik, pengurus masjid juga menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan setiap hari. Salat fardu dan Jumat berlangsung rutin, diikuti pengajian zuhur, Subuh Mubarak setiap Minggu, kajian hadis Arba’in, hingga tahsin Al-Qur’an dalam beberapa kelompok.

Pada Ramadan, pengurus menyediakan takjil gratis dan menggelar iktikaf pada 10 malam terakhir. Mereka juga membagikan sarapan bagi jemaah Subuh Mubarak sebagai bentuk pelayanan sosial.

Kepala Sekretariat Masjid, Herius Nasir, menyebut pengurus terus mengembangkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban.

“Kami ingin masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan umat dan destinasi wisata religi yang membanggakan Sumatera Barat,” ujarnya.

Pengakuan Dunia dan Rencana Pengembangan

Prestasi masjid ini menembus level internasional. Pada 2021, lembaga Abdullatif Al Fozan Award menobatkannya sebagai salah satu masjid dengan arsitektur terbaik di dunia dari penilaian terhadap 200 masjid.

Ke depan, pengelola merencanakan pembangunan gedung Islamic Center, ruang VIP untuk tamu negara, serta kawasan kuliner halal yang tertata rapi. Langkah ini memperkuat posisi masjid sebagai destinasi wisata religi dan halal unggulan di Sumatera Barat.

Di tengah dinamika Kota Padang yang terus berkembang, Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi berdiri bukan sekadar sebagai bangunan megah, tetapi sebagai simbol identitas, kebanggaan, dan harmoni budaya Minangkabau dengan nilai-nilai Islam. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

KEMENHAJ KANWIL SUMBAR JADI LOKOMOTIF RAKER PERTAMA SE INDONESIA
Praperadilan Ditolak Lagi, Penyitaan Aset Hj. Merry Nasrun Dinyatakan Sah oleh PN Padang
Kayu Manis Food Court Resmi Diluncurkan di Hotel Santika Premiere Padang, Tawarkan Sensasi Kuliner dan Live Music
Embarkasi Padang berangkatan 14 kloter tahun ini
24 APRIL CJH ASAL PADANG DITERBANGKAN KETANAH SUCI
Dipergoki Saat Beraksi, Pencuri Kabel Tower Telkomsel di Padang Tak Berkutik
MTsN 6 Padang jadi percontohan Wisuda Tahfiz Al Quran di Sumbar 
Libur Lebaran Kebun Kintani Ramai Pengunjung

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 19:39 WIB

KEMENHAJ KANWIL SUMBAR JADI LOKOMOTIF RAKER PERTAMA SE INDONESIA

Selasa, 14 April 2026 - 19:29 WIB

Praperadilan Ditolak Lagi, Penyitaan Aset Hj. Merry Nasrun Dinyatakan Sah oleh PN Padang

Minggu, 12 April 2026 - 15:30 WIB

Kayu Manis Food Court Resmi Diluncurkan di Hotel Santika Premiere Padang, Tawarkan Sensasi Kuliner dan Live Music

Selasa, 7 April 2026 - 21:55 WIB

Embarkasi Padang berangkatan 14 kloter tahun ini

Jumat, 3 April 2026 - 20:06 WIB

24 APRIL CJH ASAL PADANG DITERBANGKAN KETANAH SUCI

Berita Terbaru

Podcast

Perjalanan Tokoh Muda Inspiratif Pasaman Barat ‎

Jumat, 17 Apr 2026 - 08:17 WIB

Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pendidikan karakter dan kesadaran hukum di kalangan pelajar melalui program “Jaksa Mengajar”, Rabu (15/4/2026).

Hukum

Belasan Jaksa Kejati Sumbar Datangi SMK 3 Padang

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:40 WIB