PADANG – Di jantung Kota Padang, tepat di perempatan Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Ahmad Dahlan, berdiri megah sebuah bangunan yang langsung mencuri perhatian siapa pun yang melintas. Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi tampil berbeda dari kebanyakan masjid di Indonesia. Ia tidak memiliki kubah, namun justru di situlah letak daya tariknya.
Masyarakat mengenalnya sebagai “Mahligai Minang”—ikon religi sekaligus destinasi wisata halal kebanggaan Sumatera Barat.
Lahir dari Gagasan Besar
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memulai pembangunan masjid ini pada 2007 setelah arsitek Ridwan Kamil merancang desainnya. Pembangunan berlangsung bertahap karena penganggaran dilakukan secara multiyears selama tujuh tahun. Pemerintah merampungkan proyek ini pada 2014 dengan total anggaran sekitar Rp330 miliar dan meresmikannya pada masa kepemimpinan Gubernur Irwan Prayitno.
Masjid berdiri di atas lahan hampir satu hektare dan langsung menjelma menjadi pusat aktivitas keagamaan sekaligus landmark baru Kota Padang.
Filosofi Atap Tanpa Kubah
Alih-alih kubah, masjid ini menghadirkan atap bergelombang dengan empat sudut lancip yang menyerupai kain besar yang terbentang. Banyak orang mengira bentuknya terinspirasi dari gonjong rumah gadang. Namun, desain tersebut justru melambangkan empat sudut kain putih yang digunakan empat khalifah saat memindahkan Hajar Aswad di Mekkah.
Makna simbolik itu memperkuat pesan persatuan dan kebijaksanaan dalam sejarah Islam.
Interior Megah Tanpa Tiang
Keunikan lain terlihat pada ruang utama yang luas tanpa tiang penyangga di bagian tengah. Desain ini memberi kesan lapang sekaligus monumental. Dinding dan ornamen interior dihiasi ukiran khas Minangkabau, sementara mihrab dirancang menyerupai bentuk Hajar Aswad dan diperkaya kaligrafi Asmaul Husna.
Masjid tiga lantai ini mampu menampung sekitar 6.000 jemaah. Area parkir luas, tempat wudu bersih, serta taman bermain anak membuat kawasan masjid selalu ramai, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Pusat Ibadah dan Aktivitas Sosial
Tak hanya menghadirkan arsitektur ikonik, pengurus masjid juga menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan setiap hari. Salat fardu dan Jumat berlangsung rutin, diikuti pengajian zuhur, Subuh Mubarak setiap Minggu, kajian hadis Arba’in, hingga tahsin Al-Qur’an dalam beberapa kelompok.
Pada Ramadan, pengurus menyediakan takjil gratis dan menggelar iktikaf pada 10 malam terakhir. Mereka juga membagikan sarapan bagi jemaah Subuh Mubarak sebagai bentuk pelayanan sosial.
Kepala Sekretariat Masjid, Herius Nasir, menyebut pengurus terus mengembangkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban.
“Kami ingin masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan umat dan destinasi wisata religi yang membanggakan Sumatera Barat,” ujarnya.
Pengakuan Dunia dan Rencana Pengembangan
Prestasi masjid ini menembus level internasional. Pada 2021, lembaga Abdullatif Al Fozan Award menobatkannya sebagai salah satu masjid dengan arsitektur terbaik di dunia dari penilaian terhadap 200 masjid.
Ke depan, pengelola merencanakan pembangunan gedung Islamic Center, ruang VIP untuk tamu negara, serta kawasan kuliner halal yang tertata rapi. Langkah ini memperkuat posisi masjid sebagai destinasi wisata religi dan halal unggulan di Sumatera Barat.
Di tengah dinamika Kota Padang yang terus berkembang, Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi berdiri bukan sekadar sebagai bangunan megah, tetapi sebagai simbol identitas, kebanggaan, dan harmoni budaya Minangkabau dengan nilai-nilai Islam. (*)












