Bukittinggi: Dari Nagari Kurai, Fort de Kock, hingga Kota Bersejarah di Dataran Tinggi Minangkabau

Minggu, 1 Maret 2026 - 00:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jam Gadang Salah Satu Bangunan Bersejarah di Kota Bukittinggi (Sumber Foto: tripadvisor.co.id)

Jam Gadang Salah Satu Bangunan Bersejarah di Kota Bukittinggi (Sumber Foto: tripadvisor.co.id)

BUKITINGGI – Udara sejuk menyapa siapa saja yang menjejakkan kaki di Kota Bukittinggi. Kota yang berada sekitar 930 meter di atas permukaan laut ini bukan hanya dikenal karena panorama alamnya yang memukau, tetapi juga karena jejak sejarah panjang yang membentuk identitasnya hari ini.

Di balik namanya yang berarti “bukit yang tinggi”, tersimpan kisah tentang adat, kolonialisme, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Berawal dari Nagari Kurai

Sebelum dikenal luas sebagai Bukittinggi, wilayah ini merupakan bagian dari Nagari Kurai, salah satu nagari adat tertua di ranah Minangkabau. Nagari Kurai telah lama menjadi pusat aktivitas masyarakat, baik dalam bidang perdagangan, pertanian, maupun adat istiadat.

Struktur sosial dan kehidupan masyarakat Minangkabau yang kuat dengan sistem adat menjadi fondasi awal perkembangan kawasan ini. Letaknya yang strategis di dataran tinggi membuat wilayah ini berkembang sebagai titik pertemuan berbagai jalur ekonomi di pedalaman Sumatra Barat.

BACA JUGA :
Ratusan Warga Binaan Lapas Kelas II A Padang Khusyuk Sholat Tarawih Meski di Balik Jeruji

Era Kolonial dan Lahirnya Fort de Kock

Memasuki abad ke-19, situasi berubah ketika pemerintah kolonial Belanda memperluas pengaruhnya di Sumatra Barat. Pada 1825, Belanda membangun benteng pertahanan di atas sebuah bukit strategis di kawasan tersebut.

Benteng itu dinamakan Fort de Kock, sebagai bentuk penghormatan kepada Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Merkus de Kock. Sejak saat itu, nama Fort de Kock lebih dikenal secara administratif dan digunakan dalam berbagai dokumen pemerintahan kolonial.

Benteng tersebut menjadi simbol kekuatan militer Belanda di wilayah pedalaman Minangkabau, terutama dalam menghadapi dinamika politik dan perlawanan masyarakat setempat pada masa itu.

Dari Fort de Kock ke Bukittinggi

Seiring waktu dan menguatnya identitas lokal, nama Bukittinggi mulai digunakan secara resmi pada awal abad ke-20. Nama ini merujuk pada kondisi geografis kota yang memang berada di kawasan perbukitan tinggi.

Perubahan nama tersebut bukan sekadar pergantian istilah, tetapi juga mencerminkan pergeseran identitas dari simbol kolonial menuju identitas yang lebih membumi dan sesuai dengan karakter alam serta budaya setempat.

Kota Perjuangan dan Ibu Kota Darurat RI

Bukittinggi tidak hanya penting dalam konteks sejarah kolonial, tetapi juga memiliki peran strategis dalam sejarah Republik Indonesia. Pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948–1949, kota ini pernah menjadi ibu kota darurat Republik Indonesia.

Dari kota inilah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dijalankan untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan ketika Yogyakarta diduduki Belanda.

Selain itu, Bukittinggi juga pernah menyandang status sebagai ibu kota Provinsi Sumatra dan kemudian Provinsi Sumatra Tengah. Peran tersebut menegaskan posisi Bukittinggi sebagai salah satu pusat pemerintahan dan pergerakan penting di Sumatra pada masa awal kemerdekaan.

BACA JUGA :
Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Mahligai Minang Tanpa Kubah yang Mendunia

Warisan Sejarah yang Hidup

Kini, Bukittinggi dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatra Barat. Namun, di balik geliat pariwisatanya, kota ini tetap menyimpan lapisan-lapisan sejarah yang membentuknya: dari Nagari Kurai yang sarat adat, Fort de Kock yang menjadi saksi kolonialisme, hingga kota perjuangan yang menjaga nyala republik.

Bukittinggi bukan sekadar kota di dataran tinggi. Ia adalah ruang yang merekam perjalanan panjang Minangkabau dan Indonesia—sebuah kota yang tumbuh dari bukit, dan berdiri tegak dalam sejarah bangsa. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Wakil Pimpinan Redaksi Tipikor TV Apresiasi Kinerja Polresta Bukittinggi Berantas Kriminal dan Narkoba
Kebun Kita Intani Padang Dipenuhi Pengunjung, Wisata Edukasi Jadi Daya Tarik Utama
Kunjungan Widiyanti Putri Wardhana ke Sumbar: Bandara Mentawai, Wisata Gastronomi, dan Kebangkitan Tour de Singkarak 2027 Jadi Sorotan
Kunjungi Bukittinggi, Menteri Pariwisata Terkesan Potensi Sejarah dan Wisata
Kayu Manis Food Court Resmi Diluncurkan di Hotel Santika Premiere Padang, Tawarkan Sensasi Kuliner dan Live Music
Survei Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia di Pasaman Barat Tinjau Kesiapan Lokasi Kampung Nelayan Merah Putih 2026
Libur Lebaran Kebun Kintani Ramai Pengunjung
Di Balik Asap Dapur Rendang, Kisah Perempuan Minang Menjaga Warisan yang Tak Pernah Padam

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 12:28 WIB

Wakil Pimpinan Redaksi Tipikor TV Apresiasi Kinerja Polresta Bukittinggi Berantas Kriminal dan Narkoba

Senin, 1 Juni 2026 - 12:12 WIB

Kebun Kita Intani Padang Dipenuhi Pengunjung, Wisata Edukasi Jadi Daya Tarik Utama

Rabu, 29 April 2026 - 21:18 WIB

Kunjungan Widiyanti Putri Wardhana ke Sumbar: Bandara Mentawai, Wisata Gastronomi, dan Kebangkitan Tour de Singkarak 2027 Jadi Sorotan

Rabu, 29 April 2026 - 21:01 WIB

Kunjungi Bukittinggi, Menteri Pariwisata Terkesan Potensi Sejarah dan Wisata

Minggu, 12 April 2026 - 15:30 WIB

Kayu Manis Food Court Resmi Diluncurkan di Hotel Santika Premiere Padang, Tawarkan Sensasi Kuliner dan Live Music

Berita Terbaru