PASAMAN – Erosi sungai yang terjadi sejak Desember 2025 di Nagari Aia Manggih Utara, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, semakin menimbulkan keresahan warga.
Kondisi ini tidak hanya merusak lahan masyarakat, tetapi juga mengancam rumah penduduk hingga jalur strategis nasional, Lintas Sumatera.
Berdasarkan pantauan warga, pengikisan terjadi di bibir sungai dengan kondisi tanah yang relatif lembut sehingga mudah tergerus arus air.
Hingga saat ini, jarak antara bibir sungai dan salah satu rumah warga diperkirakan tinggal sekitar 15 meter.
BACA JUGA:
Harga Daging Sapi dan Kerbau di Pasaman Barat Naik Rp30 Ribu Jelang Ramadan, Permintaan Tetap Tinggi
Warga Dihantui Kekhawatiran Saat Hujan Deras
Sahruni, salah seorang warga Aia Manggih Utara, mengaku terus diliputi rasa cemas sejak erosi mulai terjadi pada akhir tahun lalu. Ia yang tinggal bersama suaminya merasa khawatir setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Kalau hujan deras dan air sungai naik, kami selalu waswas. Takut tanah makin tergerus dan rumah ikut terdampak,” ujarnya.
Menurutnya, apabila tidak segera ditangani, erosi tersebut berpotensi membuatnya kehilangan tempat tinggal.
Apalagi intensitas curah hujan yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir mempercepat proses pengikisan tanah di sepanjang aliran sungai.

Jalur Lintas Sumatera Ikut Terancam
Tak hanya permukiman warga, kondisi erosi juga disebut-sebut mendekati badan Jalan Lintas Sumatera. Saat ini jaraknya diperkirakan tinggal sekitar 30 meter dari bibir sungai.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin pengikisan akan semakin meluas dan berdampak pada infrastruktur vital yang menjadi penghubung antar provinsi tersebut.
Masyarakat setempat berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun tangan melakukan penanganan, seperti pembangunan penahan tebing atau normalisasi sungai, guna mencegah dampak yang lebih besar.
Warga menilai langkah cepat sangat dibutuhkan untuk melindungi permukiman, lahan pertanian, serta menjaga keamanan Jalur Lintas Sumatera dari potensi kerusakan akibat erosi yang terus meluas. (*)












